PADA dahulu kala, ketika nenek moyang masih memakan keluang, tersebutlah kisah di negeri Siambul. Tinggalah tujuh pasang putra dan putri yang waktu lahirnya kembar-kembar. Ketujuh pasang putra itu yaitu Marudum Sakti lahir kembar dengan anak perempuan bernama Putri Pinang Masak, Buyung Selamat lahir kembar dengan Putri Mayang Mengurai, Sampurago lahir kembar dengan Subang Bagelang, Tunggak de Tonang lahir kembar dengan Putri Pandan Bajelo, Sapu Jagat lahir kembar dengan Putri Loyang Bunga Emas, Roger lahir berpasangan dengan Putri Setanggi, dan adiknya yang bungsu bernama Tuntun lahir berpasangan dengan Putri Bungsu.
Ketujuh putra lahir dan tumbuh besar menjadi lelaki yang gagah perkasa terkenal ke seluruh bumi Melayu. Ketujuh putra itu disegani dan dihormati karena sangat bijak melakukan sesuatu, sakti karena kekuatannya itu dan diberi gelar datuk atas penghargaan yang dibuatnya.
Datuk Marudum Sakti misalnya, merupakan saudara laki-laki yang tertua terkenal dengan kesaktiannya dapat menguasai Selat Melaka hingga ke tanah Kera di negeri Siam. Buyung Selamat, saudara laki-laki yang nomor dua terkenal dengan kesaktiannya menguasai Selat Sunda dan Sumatra bagian Selatan. Sampurago terkenal dengan kekuasaannya menguasai pesisir Timur Sumatra hingga ke daerah Aceh Utara.
Demikian pula ke tujuh putri juga tumbuh besar menjadi putri yang cantik jelita. Namun, dari ke tujuh putri ini tersebutlah Putri Pinang Masak, saudaranya yang tua, seorang perempuan yang cantik tiada terbilang kecantikannya di negeri itu. Kata orang bak bidadari dari kayangan. Dia memang anak seorang bidadari yang turun ke bumi.
Banyak putra raja yang berkeinginan mempersunting Putri Pinang Masak. Namun, tak satu pun melekat di hatinya. Pinangan mereka biasanya ditolak dengan halus. Saudara-saudaranya senantiasa menyerahkan pilihan yang sesuai dengan hati sang putri.
***
Pada suatu pagi air di sungai Gangsal, sebuah sungai kecil yang membelah negeri mereka mengalir deras. Biasalah jika hari hujan lebat di hulu air sungai ini menderas sampai ke muara di hilir Indragiri dan terkadang banjir. Jika kemarau, sungai Gangsal ini jernih bagaikan sinar permata mutiara, karena jernih dan beningnya tampak segala isi yang ada di sungai. Tapi pagi itu entah mengapa bunyi air menderas itu sampai jauh.
Pada pagi yang dingin itu di kampung Siambul dihebohkan oleh berita mengejutkan. Putri Pinang Masak hilang raib dari rumahnya, seperti ditelan bumi. Semua saudaranya yang laki-laki sudah mencari ke sana ke mari, mencari putri nan cantik jelita itu. Tak juga diperoleh kabar yang mengembirakan.
Mula-mula Dubalang Tonggak De Tonang yang mencari, lalu disusuri oleh Datuk Tuntun, kemudian diikuti oleh adik-adiknya yang lain, Sampurago, Sapu Jagat, dan terakhir Datuk Roger. Semuanya hampa, tak memperoleh hasil apa-apa.
Namun, mereka tidak menyerah. Datuk Roger pergi masuk hutan ke luar hutan, masuk kampung ke luar kampung. Akhirnya, Datuk Roger berjumpalah dengan sebuah kampung yang dihuni oleh Datuk Motah.





