Kepala

"Kepala" Oleh: Kalam Enau (Ilustrasi: guruku.kosabudaya.id)

Oleh: Kalam Enau

“Kepala!”

Bacaan Lainnya

“Ada apa dengan kepala?”

“Orang-orang menemukan kepala di sana.”

“Mutil4si ya?”

“Kayaknya enggak. Kepala itu tiba-tiba aja udah ada di sana, seperti diletakkan begitu saja oleh pemiliknya. Mungkin udah bosan, atau mungkin mau diganti dengan yang baru.”

“Bentuk kepalanya seperti apa?”

“Biasa. Seperti kepala pada umumnya.”

“Udah panggil polisi?”

“Udah. Tapi kata polisi biar aja. Nggak perlu dirisaukan.”

“Loh kok polisinya ngomong gitu?”

“Ya nggak tahu. Di tempat-tempat lain juga ditemukan banyak kepala. Jadi polisinya mungkin terlalu repot ngurusin kepala doang.”

“Eh itu Pak RT, mungkin ia tahu siapa pemilik kepala itu.”

Kerumunan warga langsung menoleh. Pak RT datang mengenakan peci hitam dan jas abu-abu. Seseorang lalu meminjam kursi kayu dari teras rumah warga. Pak RT naik ke atas kursi itu. Ia berdiri dengan wajah tenang, matanya menyapu warga yang mulai hening.

“Saudara-saudaraku… Hari ini, jam ini, detik ini. Alhamdulillah, akhirnya kampung kita mendapat kepala!”

Warga saling melirik.

“Selama ini kepala hanya ditemukan di kampung tetangga. Saya hampir putus asa. Tapi hari ini, anugerah itu datang juga. Kita sudah sederajat! Kita bisa membusungkan dada!”

Pak RT tersenyum. Warga hanya diam. Beberapa terlihat bingung.

“Kepala ini adalah kiriman dari langit. Semakin banyak kepala ditemukan, semakin tinggi derajat kita. Tidak perlu risau. Mari pulang. Kembali bekerja.”

Tiba-tiba seorang warga bertanya.

“Tapi, Pak RT… Bukankah kalau dibiarkan, kepala itu akan jadi bangkai? Bau, Pak!”

Pak RT menatapnya lembut. Jiwa kepemimpinannya muncul.

“Betul. Akan bau. Tapi itu ujian. Bau itu pahala. Hiruplah dalam-dalam. Itu anugerah!”

Pak RT pun berlalu. Sebagian warga pulang, sebagian lagi masih bingung.

“Bangkai kok jadi anugerah,” bisik seseorang.

***

Pak Kodri terbangun pagi itu dengan perasaan aneh. Ringan. Damai. Seperti bayi merah baru lahir. Ia tersenyum kecil. Tapi saat hendak menyisir rambutnya, ia tertegun di depan cermin.

Kepalanya hilang.

Tidak ada. Lenyap. Kosong. Ia meraba pelipis, ubun-ubun, tengkuk. Semua nihil. Ia cubit pipinya. Sakit. Ia garuk tangan. Sakit juga. Jadi ini bukan mimpi?

Pak Kodri termenung. Semalam tak ada yang aneh. Ia pulang seperti biasa, mandi, makan, menonton berita, lalu tidur. Pagi ini… kepala hilang.

Ia mulai berpikir—siapa yang mencuri kepalanya? Mafia? Teroris? Tapi untuk apa? Kepala Pak Kodri bukan kepala istimewa. Bahkan sebagian isi kepalanya sudah kadaluwarsa, pikirnya. Jika dimasak, bisa keracunan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *