Kalau bukan orang luar, mungkin keluarganya? Tapi istrinya sudah lama meninggal. Anak-anaknya sibuk di kota. Atau mungkin… perempuan simpanannya? Si Pipi Merah? Tapi ia merasa sudah terlalu royal.
Pak Kodri lalu keluar rumah. Mencari kepalanya. Ke jalan sempit, gang buntu, warung kopi, masjid, pos ronda. Tak ada. Ia bahkan menyewa orang menyebar pengumuman:
“Hilang: 1 (satu) kepala, milik Pak Kodri. Jika ditemukan, harap kembalikan ke rumah tua di ujung gang Durian. Hadiah menarik.”
Ia tak melapor ke polisi. Percuma, pikirnya. Polisi sekarang sibuk. Terlalu banyak kepala berserakan.
***
Beberapa hari kemudian, warga menemukan satu kepala lagi. Kali ini di dekat pasar. Wajahnya senyum. Diam, damai. Tak ada darah, tak ada tubuh.
Pak RT kembali naik ke kursi kayu.
“Saudara-saudaraku, anugerah kembali turun. Kepala kedua telah tiba. Bukti bahwa kampung kita diberkahi.”
Warga tidak lagi heboh. Mereka sudah terbiasa. Bahkan mulai terbiasa berjualan di dekat kepala. Bahkan ada yang foto selfie.
Namun, malam itu, ada seseorang yang datang diam-diam. Ia membungkus kepala yang ditemukan itu dan membawanya ke rumah tua Pak Kodri.
Di dalam rumah, Pak Kodri duduk sendiri. Di meja, ada kopi hitam dan roti basi.
“Pak… ini… mungkin ini kepala Bapak.”
Orang itu meletakkan kepala di meja. Pak Kodri menatapnya lama.
“Bukan. Itu bukan kepala saya. Kepala saya tidak secerah itu.”
Ia menyesap kopi pelan. Lalu tertawa kecil.
“Mungkin kepala saya sudah muak tinggal di atas tubuh saya. Lalu ia pergi sendiri.”
***
Pagi esoknya, warga kembali digemparkan. Dua kepala baru ditemukan di tepi surau, masih basah, masih hangat. Tak ada tubuh, hanya kepala dengan mata setengah terbuka, bibir masih bergetar seakan ingin mengucap sesuatu.
Orang-orang berbondong datang. Dari lorong sempit, dari kebun belakang, dari rumah-rumah papan. Anak-anak digendong ke bahu, perempuan membawa selendang menutupi mulutnya, laki-laki saling berbisik dengan wajah penuh tanda tanya. Namun, tak ada seorang pun yang tampak benar-benar ketakutan. Semua seolah sudah biasa. Ini hanyalah bagian dari rutinitas baru kampung mereka.
Pak RT kembali berdiri di kursi kayu. Wajahnya agak sedikit pucat tapi penuh wibawa, suaranya bergetar lantang.
“Saudara-saudaraku… ini hari yang besar!” serunya.
Warga terdiam. Angin berhenti, dedaunan pun seakan ikut menyimak.
“Dua kepala! Anugerah berlipat ganda. Tuhan telah melimpahkan rezeki pada kita. Kini, dengan dua kepala ini, kampung kita akan semakin dihormati. Percayalah!”
Orang-orang bersorak lirih. Ada yang bertepuk tangan, ada yang menunduk sambil tersenyum. Hanya segelintir yang masih menahan napas, menatap kepala-kepala itu dengan pandangan gamang.
***
Malam itu, Pak Kodri duduk di beranda rumahnya. Lampu temaram menggantung dari langit-langit kayu yang mulai lapuk. Ia menyesap kopi pahit tanpa bibir. Ia tak tahu bagaimana caranya, tapi kopi itu tetap terasa pahit.
