Sultan Zainal Abidin

Tugu perjuangan di negeri Dalu-dalu Tambusai.

Sultan Zainal Abidinadalah seorang raja Kerajaan Tambusai di wilayah Rokan yang dikenal sebagai pemimpin perlawanan gigih terhadap penjajahan Belanda pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Ia merupakan putra dari Sultan Abdul Wahid dan penerus cita-cita besar kerajaan untuk mempersatukan wilayah Rokan yang terpecah-pecah, sekaligus mempertahankan kedaulatan negeri dan agama dari pengaruh kekuasaan asing.

Sebagai seorang sultan, Zainal Abidin tidak hanya menjalankan pemerintahan, tetapi juga memimpin langsung perjuangan rakyatnya. Ia mewarisi semangat juang dari para pendahulunya, termasuk tradisi perlawanan yang pernah dibangun oleh Tuanku Tambusai. Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Tambusai menjelma menjadi salah satu pusat kekuatan yang tegas menolak dominasi Belanda di wilayah Rokan.

Bacaan Lainnya

Warisan Perjuangan dan Lahirnya Kepemimpinan Baru
Sultan Abdul Wahid mewarisi kondisi wilayah Rokan yang terpecah-pecah dalam beberapa kekuasaan kecil. Ia memiliki cita-cita besar untuk mempersatukan kembali negeri-negeri tersebut. Namun, upaya diplomasi dengan kerajaan-kerajaan seperti Kubu, Bangko, dan Tanah Putih tidak membuahkan hasil, karena wilayah-wilayah itu telah berada di bawah pengaruh Kesultanan Siak.

Meski demikian, Sultan Abdul Wahid tetap mendirikan pusat pemerintahan baru di Negeri Tinggi, sebelum akhirnya—demi menghindari konflik terbuka dengan Siak—memindahkannya ke Rantau Binuang Sakti. Di sanalah ia memerintah hingga akhir hayatnya.

Sepeninggal beliau, tampuk kekuasaan beralih kepada putranya, Sultan Zainal Abidin, seorang pemimpin yang kelak dikenal sebagai tokoh perlawanan gigih terhadap kolonialisme Belanda.

Cita-cita Besar Sultan Zainal Abidin
Ketika dinobatkan sebagai sultan, pusat pemerintahan berada di Rantau Binuang Sakti. Namun, Sultan Zainal Abidin tidak sekadar melanjutkan pemerintahan—ia membawa visi besar yang diwariskan dari leluhur Tambusai, sebagaimana tercantum dalam Tombo Siri Kerajaan Tambusai. Visi itu terangkum dalam empat prinsip utama:

  1. Mendirikan satu kesatuan Kerajaan Rokan dari muara hingga perbatasan Minangkabau
  2. Menentang penjajahan Belanda
  3. Mempersatukan rakyat Rokan yang tercerai-berai
  4. Mendirikan pusat pemerintahan yang kuat dan mandiri

Sebagai langkah awal, Sultan Zainal Abidin memindahkan ibu kota kerajaan ke Rantau Kasai, sebuah wilayah yang strategis untuk mengatur pemerintahan sekaligus pertahanan.

Perlawanan terhadap Belanda dan Diplomasi Internasional
Dari Rantau Kasai, Sultan Zainal Abidin menjalankan roda pemerintahan dengan fokus utama menahan laju ekspansi Belanda. Sikap penolakannya sangat tegas—Belanda dianggap sebagai kekuatan asing yang bertentangan dengan nilai agama dan kedaulatan negeri.

Dalam upaya memperkuat posisi, Sultan Zainal Abidin melakukan langkah yang luar biasa untuk ukuran zamannya: ia memimpin langsung sebuah delegasi bersama Tengku Tumpeng menuju Istanbul untuk menemui Sultan dari Kesultanan Ottoman. Harapannya adalah mendapatkan dukungan militer dari dunia Islam dalam menghadapi Belanda.

Namun, harapan itu tidak terwujud. Pihak Ottoman menilai kondisi Kerajaan Rokan belum memenuhi syarat untuk menerima bantuan militer. Tidak berhenti di situ, Sultan Zainal Abidin kemudian menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan Melayu di Semenanjung, seperti Perak dan Ipoh. Dari sana, ia hanya memperoleh bantuan terbatas berupa perlengkapan dan dukungan keagamaan.

Konflik Terbuka dan Penangkapan
Pada awal abad ke-20, Belanda semakin memperluas kekuasaannya di wilayah Riau. Tahun 1901, mereka berhasil menduduki Rokan Empat Koto dan mulai menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain seperti Kunto Darussalam, Rambah, Tambusai, dan Kepenuhan.

Namun, satu kekuatan tetap berdiri teguh: Kerajaan Rokan yang berpusat di Rantau Kasai di bawah Sultan Zainal Abidin. Semua upaya diplomasi Belanda ditolak mentah-mentah.

Karena gagal dengan pendekatan halus, Belanda akhirnya melancarkan serangan militer ke Rantau Kasai. Dalam pertempuran yang tidak seimbang, Sultan Zainal Abidin tetap memberikan perlawanan sengit. Namun, kekuatan persenjataan modern Belanda membuat pertahanan kerajaan runtuh.

Sultan Zainal Abidin akhirnya ditangkap. Ia sempat dibawa ke Pasir Pengaraian, kemudian dipindahkan ke penjara di Sukamiskin, sebelum akhirnya diasingkan ke Madiun.

Akhir Hayat dan Warisan Sejarah
Di tanah pengasingan di Madiun, Sultan Zainal Abidin menghembuskan napas terakhirnya pada tahun 1904. Kepergiannya dikenang dengan penuh hormat oleh masyarakat Rokan, yang memberinya gelar Tengku Mangkat di Madiun.

Perjuangannya menjadi simbol keteguhan dalam mempertahankan kedaulatan, agama, dan persatuan negeri. Hingga kini, melalui berbagai upaya penelitian sejarah, nama Sultan Zainal Abidin terus diangkat sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perlawanan di Riau, bahkan sedang diusulkan untuk memperoleh gelar Pahlawan Nasional.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *