C. Klasifikasi Makanan dalam Tradisi Melayu
Dalam tradisi Melayu, makanan yang disajikan pada upacara sosial dan keagamaan dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu:
- Makanan Pokok
yaitu makanan utama yang menjadi sumber tenaga bagi masyarakat. Jenisnya antara lain nasi, sagu, ubi, dan lauk-pauk seperti ikan, daging, atau sayur-mayur. Makanan pokok biasanya disajikan dalam acara besar seperti kenduri, hajatan, atau jamuan adat. - Makanan Pendamping
yaitu makanan pelengkap yang disajikan antara waktu makan utama, sering disebut kudapan atau kue-mueh. Kue-mueh ini bisa berupa kue basah maupun kue kering, yang tidak hanya dimakan sebagai camilan tetapi juga memiliki fungsi simbolik dan sosial, misalnya dalam acara menyambut tamu, hari raya, atau syukuran.
D. Keanekaragaman Makanan Pendamping
Makanan khas Melayu yang disajikan dalam perayaan sosial terutama jenis makanan pendamping sangat beragam. Perbedaan letak geografis antara daerah daratan dan kepulauan turut memengaruhi bahan dasar serta jenis makanan yang dihasilkan.
Di wilayah kepulauan, misalnya, makanan banyak menggunakan bahan dari laut dan kelapa, sedangkan di wilayah daratan lebih dominan menggunakan hasil ladang seperti padi, ubi, dan pisang. Bahkan antar kampung dalam satu daerah pun sering memiliki cita rasa dan bentuk makanan yang berbeda, yang mencerminkan kekayaan budaya dan identitas lokal masyarakat Melayu Riau.
1. Hasidah
Hasidah atau disebut juga sidah adalah kue yang rasanya manis dan gurih. Penyebaran hasidah cukup luas, meliputi wilayah sungai Siak, Indragiri, Rantau Kuantan, Kampar, dan sepanjang Rokan. Bahan yang digunakan untuk membuat hasidah adalah tepung terigu, gula pasir, air, minyak sapi, bawang merah, kayu manis dan cengkeh secukupnya.
2. Galamai atau Gelamai
Galamai biasanya disajikan saat perayaan-perayaan penting seperti hari raya Islam, pernikahan, turun mandi, dan sebagainya. Pada sebagian wilayah disebut dengan nama kalamai.
Bahan yang diperlukan untuk membuat gelamai adalah tepung ketan, gula merah, dan kelapa. Pengolahannya, kelapa diambil santannya kemudian dimasak dengan gula dan tepung sambil terus diaduk. Masak sampai mengental (kira-kira tinggal 1/3 bagian).
3. Lemang
Lemang terbuat dari pulut dan ketan yang dimasak di dalam buluh dengan cara dibakar di atas bara. Makanan ini terkenal di Kampar, Kuantan, Rokan, Pelalawan, dan Indragiri. Lemang adalah makanan yang dihidangan dalam perayaan keagamaan dan sosial, seperti perayaan Maulud Nabi Muhammad Saw., Idul Fitri, Idul Adha, dan pesta perkawinan.
4. Wajik atau Nasi Manis
Wajik memiliki rasa manis. Wajik disebut juga nasi manis. Penganan ini biasanya dibuat dan disanjikan ketika hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, nikan kawin, sunah Rasul, dan sebagainya. Ada juga dibuat dan disajikan ketika batobo, rarak godang, silat, dan untuk menjamu tamu.
Waji terbuat dari pulut tanak sampai masak dicampur dengan santan atau ada juga yang tidak pakai santan, serta gula merah dikacau sampai masak. Bahan utama pembuatan wajik adalah beras pulut dan gula merah.
5. Konji Barayak
Makanan khas dari Kuantan dan Lima Koto Kampar. Makanan ini berupa bubur yang terbuat dari tepung beras yang diayak (disaring). Di Rantau Kuantan ada dua jenis konji yaitu konji barayak dan konji anak lobah. Makanan ini sering disajikan ketika batobo.
6. Lepat
Lepat terbuat dari pulut, beras, pisang, atau ubi yang diberi santan kemudian dibakar atau dikukus. Beberapa jenis lepat yang umum dikenal di Riau adalah lepat bugih, lepat baluo, dan lepat periuk beruk.
Rujukan:
Putra, Derichard H., dkk. 2024. Budaya Melayu Riau untuk SMA/SMK/MA Kelas X. Pekanbaru: Penerbit Narawita.





