Melihat hal itu, emak ikan bilis tambah tak paham. Ia ketuk-ketuk pintu bilik Bilis, tapi tak disahut anaknya. Akhirnya ia tinggalkan anaknya sendiri di biliknya. Emaknya pergi ke dapur sambil melete, menggerutu sendiri, “Ntah apalah anak ni kiranya, nak berbini agaknya.”
Mendengar lete emaknya dari kejauhan, ikan bilis berlari mengejar emaknya, dan tiba-tiba memeluk emaknya dari belakang.
“Emaaaaaaakkk,” jerit ikan bilis.
Emak ikan bilis terkejut bukan kepalang. Dikira anaknya telah berubah pikiran, mungkin mau membunuhnya, atau apa. Namun, ikan bilis malah tersenyum sambil memalingkan mukanya. Melihat hal itu, emak ikan bilis bertambah heran. Sebelumnya bermuka masam eh malah sekarang tertawa.
“Bilis, mengapa dikau. Tersampuk jembalang mana pula dikau ni,” ujar emak ikan bilis geram.
Namun ikan bilis tidak menjawab, ia senyum tersipu malu.
“Ada apa dikau nak,” kata emak ikan bilis lagi.
“Begini emak,” ucap ikan bilis lembut kepada emaknya.
“Emak! sebetulnya…” ikan bilis diam sejenak, ia tidak melanjutkan ucapannya.
“Sebetulnya apa…?” Tanya emak ikan bilis penasaran.
“Sebetulnya… aku kan dah besar, tengoklah kawan sepermainanku telah menikah semua. Malahan sudah ada yang punya anak lebih dari dua. Sedang aku…?” Ikan bilis diam menyurukkan mukanya ke tiang yang di hadapannya. Jari telunjuknya ia letakkan ke bibirnya. Ia malu mengutakaran kepada emaknya.
“Sedangkan dikau kenapa, bilis?” Celetuk emaknya lagi penuh perhatian.
“Sedang aku belum menikah. Jangankan menikah… teman perempuan saja belum punya.”






Iye ke .. ???
Ngarang ke betol ni …