“Oh dikau nak menikah kiranya,” tebak emaknya.
“Iya…,” jawab bilis malu-malu.
“Itu bukanlah masalah bilis…!” Ujar emaknya.
“Kan anak gadis pamanmu banyak… Dikau bisa pilih satu yang mana yang dikau suka.”
“Itulah masalahnya emak.”
“Masalahnya apa,” kata emak bilis menatap mata anaknya.
“Aku ingin, istriku nanti tidak dari kampung kita ini. Aku mau dari negeri jauh, sangat jauh dari kampung kita. Jadi, aku ingin merantau ke Selat Melaka, mana tahu di sana saya menemukan gadis yang jelita dan mau menjadi pendampingku sehidup semati,” jelas ikan bilis panjang lebar kepada emaknya.
“Tapi anakku! Apa mungkin dikau bisa merantau sejauh itu. Bukankah negeri Melaka sekian purnama jauhnya dari kampung kita. Bukankah juga negeri orang tidaklah sebaik dan sedamai kampung kita.”
“Tapi emak… aku ingin beristri gadis Melaka.”
“Di kampung kita juga banyak gadis yang cantik-cantik tak lah kalah dari gadis-gadis di Melaka itu.”
“Tapi mak…,” kata bilis tersendat. “Ya, sudahlah kalau emak tak boleh,” ujar ikan bilis merajuk.
Berhari-hari emak ikan bilis memikirkan keinginan anaknya. Karena keinginan anaknya begitu kuat, akhirnya emak ikan bilis pasrah dan menyerahkan keputusan itu kepada ikan bilis.
“Pergilah nak… Jika itu memang sudah pilihan dikau,” kata emaknya suatu hari.
“Tapi ingat nasehat emak. Jauh berjalan banyak yang nampak, lama hidup banyak dirasa. Dan jika keinginanmu telah tercapai, ingat emak di kampung. Bukankah setinggi-tinggi apapun bangau terbang akan kekubangan juga,” nasihat emak ikan bilis kepada anaknya.
“Ya emak… nasihat emak akan bilis ingat baik-baik.”
Besoknya berangkatlah bilis menuju Selat Melaka.
***
Sementara itu Pak Tuo sang nelayan sedang menebarkan jalanya di tengah laut yang sunyi. Malam itu tampaknya nasib Pak Tuo tak begitu baik. Tak seekor ikan pun berhasil ia tangkap. Sementara tubuhnya semakin menggil panas dingin. Ia menyesal tak mendengarkan perkataan istrinya.






Iye ke .. ???
Ngarang ke betol ni …