Akhirnya selesai sudah acara pemandian mayat yang dilakukan Pak Garam. Setelah itu Pak Garam pamitan pulang ke kampungnya sambi membawa batu tersebut. Konon batu itu bernama buntat manusia atau disebut juga ‘barang keramat’ dan kegunaannya sangat luar biasa. Barang siapa saja yang mendapatkan batu itu, untuk masa yang akan datang batu tersebut nantinya akan menjadi barang yang antik dan tak ternilai harganya.
Dalam perjalanan pulang ke kampungnya, Pak Garam menimang-nimang dan memperhatikan baik-baik batu tersebut sambil berpikir, apakah gerangan manfaat batu ini dan kenapa pula berada di ketiak orang yang sudah mati. Namun pertanyaan itu tak segera terjawab. Akhirnya sampailah Pak Garam ke rumahnya. Di depan pintu istrinya sudah berdiri menyongsong kedatangan Pak Garam. Namun istri Pak Garam agak heran sedikit melihat raut wajah Pak Garam tidak seperti biasanya tatkala pulang dari berpergian. Tapi istri Pak Garam tak segera bertanya. Dibiarkannya Pak Garam melepaskan penat.
Sebetulnya Pak Garam tahu istrinya heran melihat tingkahnya. Tapi ia tak bermaksud membuat istrinya sampai keheranan begitu. Niat untuk menceritakan kejadian yang baru dialaminya itu ada, tetapi ia masih lelah dan penat. “nantilah setelah penatku hilang, akan kuceritakan pada istriku,” gumam Pak Garam dalam hati.
Pak garam sendiri tak sabar menunggu penatnya hilang. Pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya tentang batu tersebut tak kunjung hilang dari pikirannya. Akhirnya, Pak Garam ceritakan semua kejadian saat ia memandikan mayat di kampung tetangga tersebut.
”Ketika saya memandikan mayat tadi, di ketiak mayat itu saya temukan batu,” kata Pak Garam kepada istrinya. Istri Pak Garam hanya diam dan menatap Pak Garam sambil memperhatikan batu yang baru saja diberikan Pak Garam kepadanya.
“tapi saya tidak tahu apa nama batu ini dan apa pula kegunaanya,” lanjut Pak Garam.
“kita simpan sajalah batu ini,” saran istri Pak Garam sambil menyerahkan kembali batu itu kepada Pak Garam.
Tanpa sepengetahuan Pak Garam dan istrinya, rupa-rupanya pembicaraan mereka terdengar oleh Bujang Selamat (pesuruh kerajaan) yang sedang memukat burung puyuh tak jauh dari rumah Pak Garam. Ia kemudian bergegas pulang ke kerajaan dan melaporkan pembicaraan Pak Garam dan Istrinya yang baru saja didengarnya kepada Raja.





