Aku menarik napas panjang, mencoba menyingkirkan rasa malu itu. Tapi, bayangan wajah mereka terus muncul, serasa masih duduk santai di tepi gerbang sekolah menatapku penuh puas saat aku naik ke motor ayah.
Motor tua ayah terus berjalan, bergetar halus tiap kali melewati jalanan berlubang. Di depanku, ayah duduk tegak. Kedua tangannya mantap menggenggam stang. Sesekali ia bersenandung kecil, lagu-lagu lama yang bahkan aku tak tahu judulnya. Suaranya serak, tapi terdengar begitu tenang.
Aku menatap punggungnya yang mulai bungkuk. Kemeja lusuhnya yang penuh bercak peluh, dan rambutnya yang semakin memutih. Di tengah rasa malu yang tadi masih menempel, tiba-tiba muncul rasa lain yang menusuk dadaku: rasa bersalah.
Ayah tidak pernah sekalipun bertanya kenapa aku sering terlambat keluar sekolah. Ia tidak pernah marah meski harus menunggu lama di gerbang. Yang kutahu, setiap hari ia mengantar dan menjemput dengan motor bututnya, dengan pakaian sederhananya, dan dengan senyum yang selalu sama—senyum yang menyambutku tanpa syarat.
Aku terdiam. Ada desir aneh di dalam dadaku. Suara ayah yang bersenandung itu seperti sedang menenangkan semua keributan pikiranku.
Sesampainya di rumah, aku langsung bergegas masuk kamar dengan wajah masam. Helm kulempar begitu saja ke pojok, tas juga kuletakkan asal di kursi. Dari arah dapur, terdengar suara Ibu memanggil lembut seperti biasanya.
“Asyia, kamu nggak makan dulu, sayang?” serunya sambil berisik mengaduk sesuatu di kuali.
“Ibu sudah buatkan gulai asam pedas kesukaanmu!” Lanjutnya lagi.
Aku pura-pura tidak mendengar. Rasanya mulutku kelu, perutku malah jadi mual. Wajah-wajah geng mawar itu masih berputar-putar di kepalaku. Tatapan mereka, tawa yang mereka tahan-tahan tapi jelas kudengar, semua membuatku seperti ditelanjangi di depan sekolah.
“Aku udah kenyang, Bu,” sahutku setengah berteriak, meski jelas-jelas aku belum makan apa pun sejak siang tadi. Kenyang oleh rasa malu.
Aku lalu menarik selimut dan menutupi wajahku.
***
Malam harinya, aku masih saja uring-uringan. Di rumah, suasana terasa biasa saja—kecuali wajahku yang masam dan cemberut. Aku duduk di pojok ruang tamu sambil men-scroll layar ponsel, padahal tak ada yang benar-benar ingin kulihat.
