“Kamu kenapa, Syia?” suara Ibu terdengar dari dapur, kali ini lebih pelan, seperti ragu kalau aku mau menjawab.
Aku diam saja, pura-pura sibuk dengan ponsel. Rasanya aku takut membuka mulut, karena kalau bicara, aku khawatir semua kekesalan ini tumpah ke orang yang salah.
Ayah tidak ada di rumah. Seperti biasanya, selepas Magrib ia ke masjid dan baru pulang setelah Isya. Entah kenapa, aku merasa lega ayah tak ada di rumah. Aku tak tahu harus menatap wajahnya atau tidak setelah kejadian tadi di sekolah. Ada rasa malu yang aneh—malu yang bahkan tak berani kuceritakan pada ibu.
Aku merebahkan tubuh di sofa, memeluk bantal erat-erat. Perasaan campur aduk itu masih menyesakkan dada.
Ibu tiba-tiba mendekat, lalu duduk di sampingku.
“Kenapa, kenapa? Cerita sama Ibu, Nak,” suara ibu lembut penuh rasa ingin tahu.
Aku diam. Mulutku seperti terkunci. Tapi entah kenapa, tiba-tiba saja kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa kupikir panjang.
“Aku mau motor, Bu. Aku nggak mau dijemput lagi. Aku mau motoran sendiri ke sekolah.”
Ibu menatapku, matanya sedikit melebar. Sejenak suasana jadi hening, hanya bunyi kipas angin yang berputar pelan terdengar. Aku bisa melihat raut wajahnya berubah—antara kaget, bingung, sekaligus khawatir.
“Syia… kamu ngomong apa?” katanya akhirnya, suaranya pelan seperti takut aku meledak.
“Aku nggak mau lagi dijemput ayah dengan motor butut itu, Bu! Malu! Teman-teman pada lihat, mereka ngejek. Aku nggak tahan!” Aku menunduk, tapi suaraku meninggi.
Kata-kata itu keluar begitu saja, dan setelahnya aku sendiri terkejut mendengar betapa tajamnya kalimat yang baru kuucapkan.
Ibu menarik napas panjang. Wajahnya masih teduh, tapi aku bisa melihat ada semburat kecewa di matanya.
