“Tapi, Nak… kamu kan belum pandai bawa motor. Bahaya kalau kamu paksakan.”
“Aku akan belajar, Bu! Aku bisa! Aku nggak mau lagi dipandang rendah gara-gara motor butut itu. Aku nggak tahan, Bu…” selaku keras.
Kata-kata terakhir keluar sambil kubenamkan wajahku ke bantal. Aku sendiri bingung, marahku sebenarnya bukan kepada ayah, tapi pada geng mawar yang selalu mengolok-olokku.
Ibu diam, lama sekali. Hanya terdengar suara sendok dari dapur, mungkin Ayah sudah hampir pulang dari masjid. Dadaku makin sesak.
***
Pagi itu udara masih lembap. Embun di dedaunan belum sempat menguap. Ayah sudah menunggu di depan rumah dengan motor bututnya, seperti biasa. Helm hijau tuanya ia sodorkan kepadaku tanpa sepatah kata.
Aku menerimanya dengan wajah datar, meski hatiku bergejolak. Semalam aku yakin ibu sudah menceritakan semuanya. Tapi ayah sama sekali tidak bertanya, tidak juga menyinggung. Percakapan semalam seolah-olah tidak ada.
Motor berjalan pelan di jalan berdebu, melewati lubang-lubang yang sudah aku hafal letaknya. Dari punggungnya, aku bisa merasakan tubuh ayah yang kian kurus. Sesekali ia menoleh ke kanan atau kiri memastikan jalan aman untukku. Tidak ada obrolan. Hanya suara knalpot tua dan desir angin yang bercampur dengan suasana jalanan pagi yang sibuk.
Aku tahu… mungkin ayah diam bukan karena tidak tahu, tapi karena hatinya sedih. Sedih punya anak gadis yang malu dijemputnya, malu dengan motor tuanya, malu dengan kesederhanaannya. Sedih, tapi ia tetap menjemputku, tetap mengantarku, tetap menjadi ayah.
Suasana di sekolah persis seperti yang kubayangkan—heboh, penuh bisik dan tatapan. Geng mawar sudah mulai beraksi: seloroh, tiruan suara, dan tawa-tipis yang sengaja dipanjangkan supaya kudengar. Kupingku panas, pipiku menghangat. Rasanya ingin aku menghilang di balik pintu lalu masuk ke dalam dinding seperti Harry Potter dan keluar di dunia lain.
Untungnya, beberapa teman dekatku melihat bagaimana wajahku berubah. Mereka segera menyergapku dengan senyum-senyum sok garang.
“Sabar, Syia. Nanti setelah pelajaran, kita bikin kejutan,” bisik Rika sambil menepuk punggungku.
Aku menatap mereka, ragu—antara tersentuh dan masih malu.
“Gimana kalau kita bawa traktor? Biar seru, dan nanti mereka yang ketar-ketir,” celetuk Aldi, setengah bercanda setengah serius.
