Ayah

Ayah. (Ilustrasi: guruku.kosabudaya.id)

Ide itu membuat kami semua terkekeh. Semangatnya bukan soal traktor sungguhan—melainkan solidaritas yang ingin mereka tunjukkan. Kata-kata itu menempel di hatiku seperti plester dan itu membuat aku agak sedikit kuat.

***

Bacaan Lainnya

Seminggu setelah kejadian yang membuatku malu setengah mati itu, tiba-tiba saja motor baru sudah terparkir di halaman rumah. Motor matic, mengilap, meski bukan keluaran terbaru, tapi cukup membuat hatiku berdebar. Dunia seakan tiba-tiba berubah lebih ramah padaku.

Aku memandanginya lama. Ibu hanya tersenyum. Ia sepertinya sudah tahu aku akan terkejut.

“Coba nanti petang belajar sama ayah,” katanya singkat. Aku menunduk. Ada rasa senang, tapi juga ada rasa lain yang lebih sulit kuuraikan.

Aku yakin, ini karena ibu sudah bercerita. Tentang geng mawar, tentang ejekan di sekolah, tentang rengekanku malam itu yang ingin punya motor sendiri. Dan ayah… aku tidak tahu bagaimana caranya. Kredit, mungkin. Atau pinjam uang dari seseorang. Aku tahu persis, ayah sehari-hari hanya menekuni pekerjaannya sebagai tukang reparasi alat-alat elektronik rumah tangga. Uang kontan untuk membeli motor jelas mustahil baginya.

Aku berdiri lama di depan motor itu lalu mencoba meraba setirnya, joknya, bahkan spionnya. Semuanya terasa dingin tapi juga hangat di dadaku. Perasaan bersalah tiba-tiba datang menyerbu lebih deras daripada rasa bangga.

“Untuk apa ayah susah-susah begini, hanya demi aku tidak malu di sekolah?” pikirku dalam hati.

Malamnya, ketika ayah pulang dari masjid, aku menunggunya di teras. Aku ingin berkata sesuatu. Tapi saat melihat wajahnya yang letih, senyum kecilnya justru membuat lidahku kelu.

“Terima kasih, Yah,”  ujarku. Hanya itu yang sanggup keluar dari mulutku. Itu pun nyaris berbisik.

“Belajar baik-baik saja! Itu sudah cukup.” Ayah menepuk bahuku ringan.

Dan entah kenapa, saat itu juga, aku merasa lebih kecil daripada motor matic yang kini terparkir di halaman. Seperti ada hutang yang tidak akan pernah lunas, meski seumur hidup.

***

Pagi seperti biasa, tapi terasa berbeda. Ayah sudah menunggu di depan rumah dengan wajah tenangnya. Aku duduk di belakangnya, masih harus bergantung pada tangannya yang piawai mengendalikan motor. Maklum, motor baruku memang sudah ada, tapi aku belum betul-betul mahir mengendarainya sendiri. Mungkin seminggu lagi baru berani benar-benar ke sekolah tanpa ayah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *