Pasta inai kemudian ditempatkan dalam wadah kecil dan digunakan untuk mencecah (melumuri) jari, kuku, telapak tangan, dan kaki pengantin, terutama pada malam menjelang akad nikah atau pada malam berinai. Setelah dilumuri, tangan pengantin dibungkus dengan kain halus agar warna inai meresap sempurna.
C. Pelaksanaan Upacara
Upacara cecah inai biasanya dilakukan pada malam berinai, yaitu malam sebelum hari pernikahan. Upacara ini berlangsung di rumah mempelai perempuan dengan dihadiri oleh keluarga dekat, sahabat, dan tokoh adat.
Beberapa tahap pelaksanaannya antara lain:
- Penyediaan bahan dan tempat upacara, termasuk inai, sirih, lilin, dan wadah berisi air mawar.
- Pengantin perempuan duduk bersimpuh di atas pelaminan kecil atau tilam berhias, dengan pakaian adat dan perhiasan.
- Tokoh adat atau orang tua melakukan pencecahan inai pertama pada kuku jari tangan dan kaki, sambil mengucapkan doa dan pantun restu.
- Dilanjutkan oleh ibu-ibu dan kerabat secara bergantian sebagai tanda kasih dan doa kebahagiaan.
D. Simbolisme dan Nilai Filosofis
Upacara cecah inai mengandung makna simbolik yaitu:
Warna merah inai Tanda cinta kasih, keberanian, dan semangat hidup baru. Pencecahan di tangan dan kaki Melambangkan kerja dan langkah yang diberkahi. Doa dan pantun restu Simbol nasihat adat dan pengikat kasih antara keluarga. Pelaksanaan bersama keluarga Cerminan nilai kebersamaan dan penghormatan dalam adat Melayu.
Selain itu, inai juga dianggap sebagai penolak bala dan penyuci diri, karena warnanya yang hangat dipercaya dapat menolak energi jahat dan mendatangkan keberkahan.
E. Teks Cecah Inai
Pelaksanaan upacara cecah inai lazimnya disertai dengan pepatah-petitih dan pembacaan syair serta pantun. Teks umumnya menggambarkan kecantikan kedua pengantin dan doa-doa yang ditujukan kepadanya.
Assalamualaikum alaikum mus salam
Jai dan Jendela, naik jonjang turun betangge
Raje nan berdaulat, penghulu nan besake
Nan mendirikan adat dan pesake
Kocik tak terimbau name
Godang tak terimbau golo
Mendaki bukit mandi angin
Menuruni jojak meluncak
Mencari datuk nan berdua raja nan berdua
Ape sobab kami mencari datuk nan berdua
Raja nan beruda kami nak meoncak
Undang nan berbaris, Adat nan pusake
Tak kale bila adat pusake berdirinya
Tak kale gagak putih kontol itam
Tak kale itulah adat cecah inai berdirinya
Lepaslah kami kelaras nan tige
Pertame laras batang kuantan
Kedue Iras Kampar
Ketige laras batang hari
Kuantan belum bernama Kuantan
Lagi bernama sungai
Konon Kuantan orang tua dahulu
Tak serupa Kuantan kini





