A. Pengertian
Nandong adalah genre sastra lisan tradisional Melayu Riau yang berkembang di wilayah Rantau Kuantan, Riau. Bentuk ini berupa nyanyian pengantar tidur yang dilantunkan dengan suara lembut, mendayu-dayu, dan bernuansa sendu, berisi pesan kasih sayang, nasihat, doa, serta ajaran moral dan keagamaan.
Sebagai salah satu bentuk sastra lisan tertua dalam tradisi Melayu Riau, nandong menggambarkan keintiman antara penandong (penyanyi) dan yang dinandongkan (biasanya anak kecil atau bayi). Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun, menjadi bagian penting dalam kehidupan domestik dan pengasuhan anak-anak masyarakat Melayu Kuantan.
Kata nandong berasal dari bahasa Melayu yang berarti nyanyian lembut atau alunan suara pengantar tidur. Secara harfiah, menandong berarti menyanyi dengan nada lembut untuk menidurkan seseorang.
Dalam pemakaian sehari-hari, makna nandong lebih sempit daripada senandung. Jika senandung dapat ditujukan kepada diri sendiri atau siapa pun, maka nandong secara khusus ditujukan untuk menidurkan anak kecil atau bayi. Oleh karena itu, dalam konteks budaya Melayu, nandong mengandung nilai emosional dan spiritual yang lebih mendalam — menjadi simbol kasih ibu dan kelembutan keluarga.
B. Bentuk dan Ciri-ciri
Sebagai bentuk sastra lisan, nandong memiliki struktur yang khas dan mudah dikenali.
1. Bentuk Lirik
Lirik nandong biasanya berbentuk pantun atau syair bebas yang berisi dua unsur:
- Sampiran, berupa penggambaran alam, kehidupan sehari-hari, atau suasana perasaan.
- Isi, berupa nasihat, doa, harapan, atau ungkapan kasih sayang kepada anak.
Kadang kala, lirik nandong diselipi kata-kata sisipan (filler words) seperti laa, ooo, haai, eii, dan sebagainya yang berfungsi untuk mengisi ruang irama dan memberi nuansa melodi yang lembut.





