Namun demikian, posisi perempuan tidak semata-mata lemah. Dalam sistem matrilineal Melayu Kuantan, perempuan justru memegang otoritas simbolik dan genealogis. Anak-anak mewarisi suku dan identitas sosial dari pihak ibu, bukan dari ayah. Oleh sebab itu, perempuan dianggap sebagai titik pusat kehidupan keluarga dan penjaga kesinambungan adat.
Kedudukan ini menjadikan peran perempuan sebagai penutur nandong semakin bermakna. Melalui nandong, perempuan tidak hanya berperan sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai pendidik moral, penjaga bahasa, dan penerus tradisi lisan. Ia menuturkan nilai-nilai budaya kepada anak-anak melalui kata, irama, dan kasih — sebuah bentuk pendidikan kultural yang dilakukan secara halus dan emosional di dalam rumah.
E. Makna Simbolik dan Ideologis
Kecenderungan bahwa perempuan lebih sering menandung juga mencerminkan ideologi gender dalam kebudayaan Melayu: bahwa perempuan adalah sumber keteduhan, sedangkan laki-laki adalah pelindung luar rumah. Ketika seorang ibu menandung anaknya, yang sedang berada di antara sadar dan tidur, maka yang sesungguhnya ia lakukan adalah menanamkan nilai-nilai kultural melalui ritme kasih sayang.
Peran ini memperlihatkan bahwa dalam sistem sosial Melayu, perempuan bukan sekadar subordinat, melainkan penyampai warisan immaterial bangsa — melalui tutur, doa, dan nyanyian. Nandong dengan demikian menjadi simbol peradaban domestik: di mana kasih, kelembutan, dan suara ibu menjadi sumber awal terbentuknya manusia Melayu yang beradab.
F. Tema, Konteks Sosial dan Fungsi Budaya
Tema-tema dalam nandong sangat beragam, namun selalu sarat dengan nilai moral dan spiritual. Beberapa tema yang umum ditemukan antara lain:
- Kasih sayang ibu dan ayah terhadap anak.
- Doa dan harapan agar anak tumbuh menjadi orang saleh dan berbudi.
- Nasihat kehidupan, tentang kerja keras, kejujuran, dan kesabaran.
- Kerinduan pada suami, anak, atau keluarga yang jauh.
- Keluh kesah dan pengaduan hati kepada Tuhan atas ujian hidup.
Dalam konteks sastra lisan, nandong dapat dianggap sebagai nyanyian puitik yang menyatukan unsur emosi, moral, dan spiritual dalam satu kesatuan estetika.Nandong memiliki berbagai fungsi sosial dan budaya yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Melayu Rantau Kuantan, antara lain:
Fungsi Keterangan Pengantar tidur anak Fungsi utama nandong adalah menidurkan bayi dengan suasana tenang dan penuh kasih sayang. Media pendidikan moral dan agama Melalui lirik-liriknya, nandong menanamkan nilai-nilai ketaatan, sopan santun, dan ketakwaan sejak dini. Ungkapan kasih sayang Nandong menjadi medium ekspresi cinta orang tua kepada anak. Terapi emosional Irama lembut nandong dipercaya dapat menenangkan hati, baik bagi anak maupun penandong sendiri. Pelestarian bahasa dan sastra Melayu Melalui nandong, bahasa, gaya tutur, dan simbolisme adat Melayu diwariskan antar generasi.
G. Perkembangan dan Pelestarian
Seiring perkembangan zaman, tradisi nandong mulai jarang ditemukan secara alami dalam rumah tangga. Namun, seniman dan budayawan Kuantan Singingi berupaya melestarikannya melalui festival sastra lisan, lomba nandong ibu-anak, serta dokumentasi audio oleh lembaga budaya daerah.
Selain itu, nandong mulai diadaptasi ke dalam bentuk musik modern Melayu, dengan iringan gambus, biola, dan seruling, tanpa mengubah karakter lembut dan mendayu-dayu yang menjadi ciri utamanya.
Kini, nandong tidak hanya dianggap sebagai warisan lisan, tetapi juga sebagai simbol kelembutan peradaban Melayu Riau yang menjunjung kasih, kesabaran, dan nilai-nilai rohaniah dalam kehidupan sehari-hari.
Rujukan:
Putra, Derichard H. 2013. “Nandung untuk Anakku”. Tesis. Program Studi Antropologi UGM





