Nyanyian Pengantar Tidur “Nandong”

Penyajian nandong di Rantau Kuantan (Foto: guruku.kosabudaya.id)

2. Irama dan Melodi
Nandong tidak memiliki pola irama baku, tetapi memiliki karakter melodi minor dan melengking halus, dengan ayunan suara yang berulang dan teratur seperti gelombang sungai. Beberapa daerah mengenal variasi irama tertentu, tetapi tanpa nama khusus — hanya dibedakan melalui pengenalan bunyi dan nada oleh penandong berpengalaman.

3. Gaya Penyajian
Nandong dilantunkan tanpa alat musik (a cappella), hanya mengandalkan intonasi dan ritme alami dari suara penandong. Dalam beberapa kasus, penandong mengiringi dirinya dengan ketukan lembut jari atau tepukan kecil di pangkuan agar bayi merasa nyaman.

Bacaan Lainnya

C. Perempuan sebagai Penutur Nandong
Dalam tradisi lisan masyarakat Melayu di Rantau Kuantan, nandong secara umum dituturkan oleh perempuan, terutama oleh ibu atau kerabat perempuan dari pihak ibu, seperti nenek, bibi, atau kakak perempuan. Kaum laki-laki jarang menjadi penandong, meskipun secara adat tidak ada larangan eksplisit bagi mereka untuk melakukannya.

Dominasi perempuan sebagai penutur nandong berakar pada pola budaya dan struktur sosial matrilineal yang dianut masyarakat Melayu Kuantan. Dalam sistem ini, garis keturunan ditarik melalui pihak ibu, sehingga perempuan memiliki posisi yang sentral dan dimuliakan dalam kehidupan keluarga dan sosial. Perempuan menjadi penjaga nilai, pewaris adat, sekaligus sumber kasih sayang utama dalam proses pengasuhan anak.

Kedekatan emosional antara ibu dan anak tercermin dalam cara penandong menyampaikan nandong: dengan suara lembut, penuh kasih, dan ritme yang menenangkan. Secara simbolik, tindakan seorang ibu menandong anaknya bukan hanya bentuk pengantar tidur, tetapi juga ritual penanaman karakter — sebuah cara agar kelembutan, kesabaran, dan kasih ibu menjadi bagian dari kepribadian anak. Dengan demikian, nandong berfungsi sebagai media internalisasi nilai-nilai feminin dalam masyarakat Melayu, di mana kelembutan dianggap sebagai inti moralitas manusia.

D. Dimensi Sosial dan Pembagian Peran Gender
Stereotip perempuan sebagai penutur nandong juga berkaitan dengan pembagian kerja tradisional yang menempatkan perempuan dalam ranah domestik. Dalam pandangan adat lama, perempuan dianggap sebagai “penunggu rumah” — bertanggung jawab atas urusan rumah tangga, pengasuhan anak, dan perawatan keluarga. Sementara itu, laki-laki berperan sebagai “penguasa luar”, yang bekerja di ladang, sungai, atau hutan untuk mencari nafkah.

Dalam struktur kerja agraris, perempuan biasanya melanjutkan pekerjaan yang telah dimulai oleh laki-laki, seperti menanam atau merawat ladang setelah laki-laki membuka tanah. Pembagian kerja ini, meskipun bersifat komplementer, mencerminkan adanya subordinasi peran perempuan dalam konteks fisik dan sosial.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *