Cerita Rakyat Putri Tujuh Versi 1

Putri Tujuh. (Ilustrasi: guruku.kosabudaya.id

Teuku Muhammad Jamil Maureksa (selanjutnya hanya akan disebut Jamil) adalah seorang pangeran muda, putra dari seorang raja sebuah kerajaan di Aceh yang disebutkan bernama Temiang. Kabar tentang kecantikan dan keelokan Syarifah Junjungan telah pula sampai ke telinga Jamil Meureksa. Walaupun tak pernah dilihatnya langsung, tapi kabar yang disampaikan orang kepadanya telah membuat dirinya senantiasa merindukan Syarifah Junjungan.

Sebenarnya ayah Jamil Meureksa agak keberatan menuntut harapan anaknya, lantaran anaknya belum pernah melihat Syarifah Junjungan. Akan tetapi karena hati telah dipenuhi oleh syahwat dan angan-angan yang panjang, Jamil menampik saran ayahnya dan bersikeras agar segera mengirmkan utusan untuk meminang. Mau tidak mau terpaksalah pihak Temiang mengirimkan utusan kepada Raja Pamalayu.

Bacaan Lainnya

Sayid Aziz Ibrahim menyambut hangat utusan Aceh kecil dan merasa berbesar hati atas perhatian mereka terhadap putrinya. Namun lantaran hidup menjunjung adat dan tunaikan syariat, maka pinangan yang disampaikan oleh utusan tersebut untuk sementara waktu belumlah dapat dijawab. Sayid Aziz Ibrahim berjanji akan secepatnya memberikan jawaban tanpa menyebutkan batas waktu. Sebetulnya Sayid Aziz bukanlah tak suka anaknya dipinang orang, tetapi pada saat itu usia Syarifah Junjungan baru berusia sekitar 15-16 tahun. Sementara, kakak-kakaknya belum lagi duduk menikah, walau di antaranya sudah ada bertunangan.

Untuk membahas pinangan tersebut, sayid Aziz lalu mengundang saudara-saudaranya. Namun, pada saat yang bersamaan musibah menimpa saudara-saudaranya. Mulanya saudaranya Sayid Abdurrahman dan Sayid Abul Hasan di Tanjung Palas sakit dan meninggal. Pada saat keluarga Sayid Aziz Ibrahim sedang berduka ini, Jamil Maereksa merasa tersiksa lantaran tak sabar menunggu jawaban atau pinangan yang telah disampaikan. Kegelisahan serta ketidaksabaran Jamil Maereksa memungkinkan masuknya bisikan setan agar Jamil melakukan tindakan yang dianggapnya baik. Dengan alasan bahwa Raja Pamalayu telah menolak lamarannya dengan cara yang tidak bijaksana. Raja Aceh kecil berusaha menyabarkan anaknya, namun tidak berhasil. Jamil yang sudah dirasuki oleh keinginan setan yang jahat menolak anjuran ayahnya. Jamil tetap bersikeras dan mendesak ayahnya untuk memberi izin menyerang Raja Pamalayu.

Betapa terkejutnya Sayid Aziz Ibrahim yang baru saja mengundang beberapa pembantu dekatnya guna membicarakan persoalan Syarifah Junjungan ketika datang utusan Jamil Meureksa kepadanya dan memberi kabar bahwa pasukan Aceh kecil sudah berada di kuala Sungai Mesjid. Setelah Jamil kembali ke induk pasukannya, Sayid Aziz Ibrahim segera mengumpulkan para pembantu dekatnya untuk membicarakan kehadiran pasukan Aceh kecil di Sungai Mesjid.

Kiranya Jamil masih merasa sungkan untuk langsung menyerang Raja Pamalayu.. Karena itulah sesampainya di kuala sungai mesjid dikirimkannya utusan lebih dahulu. Di samping itu Jamil pun merasa perlu mengistirahatkan pasukannya setelah berhari-hari berlayar, agar pada saat menyerang kekuatan pasukannya pulih kembali.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *