Cerita Rakyat Putri Tujuh Versi 1

Putri Tujuh. (Ilustrasi: guruku.kosabudaya.id

Jamil yang mendengar sumpah Sayid Aziz itu marah, dan kemudian ikut pula bersumpah. Bahwa kalaulah apa yang diucapkan oleh Sayid Aziz Ibrahim tersebut diijabah oleh Allah, maka Jamil memohon kepada Allah agar setelah dirinya mati, kuburan Sayid Aziz Ibrahim dan siapa saja yang terbunuh dan mati lantaran peristiwa tersebut  hendaklah Allah sembunyikan dari pandangan orang banyak selama kurun waktu tujuh turunan. Biar bertanda batu nisan tak akan pernah orang hiraukan, biar beribu orang mencari tapi tak akan orang temui sebelum masa tujuh keturunan berlalu.

Yang selamat pada saat perang itu hanya Panglima Hasan. Dalam keadaan luka parah panglima Hasan berusaha mengayuh sampannya melawan arus yang deras. Tapi kenyataannya hajat Panglima Hasan tak pernah sampai. Belum lagi jauh meninggalkan kuala Sungai Mesjid, Panglima Hasan menghembuskan nafasnya di dalam sampan di tengah laut. Tidaklah diterangkan berapa lama jenazah Panglima Hasan terapung-apung di laut, namun disebutkan bahwa akhirnya sampan dan jenazah tersebut ditemukan oleh nelayan yang sedang melaut yang akhirnya menguburkan jenazah Panglima Hasan di tepi pantai.

Bacaan Lainnya

Di Bangsal Aceh, darah yang sudah tumpah bukannya membuat Jamil Meureksa mengalah, ia bersama pasukannya bergerak menuju Sri Bunga Tanjung. Sesungguhnya Allah maha berkuasa atas segala sesuatunya, dan mengabulkan doa orang-orang yang teraniaya. Tidaklah dijelaskan asal muasalnya, namun tiba-tiba saja sebiji buah bakau jatuh dan tepat menghujam dada Jamil Maureksa yang sedang tidur-tiduran.

Buah bakau tersebut jatuh ke dasar sampan, sehingga sampan yang ditumpangi Jamil bocor dibuatnya. Jamil hanya sangat sempat terpekik kecil dan langsung tewas seketika. Keadaan ini membuat Siti Umaroh dan beberapa penumpang sampan lainnya terkejut. Barangkali karena terkejut itu dan hilangnya kesadaran karena terkejut, ditambah lagi keadaan Siti Umaroh yang tak bisa berenang, arus deras sungai telah menyaratkan timbul-tenggelam ke arah laut tanpa bisa menyelamatkan Jamil Maereksa.

Ketika Panglima Ibrahim menerima amanat dari Sayid Aziz Ibrahim, maka ada tiga hal yang terlintas di dalam hati kecilnya sebagai penjabaran dari amanat yang diterimanya. Pertama, Sayid Aziz Ibrahim menginginkan keluarganya tidak lagi tinggal di Tanjung Palas dan di istana Raja Pamalayu. Kedua, agar putri-putrinya yang sudah bertunangan dapat dengan aman melangsungkan pernikahan. Sebab sebahagian besar tunangan anak-anaknya adalah keluarga besar kerajaan Siak. Ketiga, andai putri wafat di dalam lubang, maka jenazahnya harus dikeluarkan dan dikebumikan di tempat lain untuk menghindarkan terjadinya hal-hal buruk di kemudian hari oleh orang-orang yang berniat jahat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *