Cerita Rakyat Putri Tujuh Versi 1

Putri Tujuh. (Ilustrasi: guruku.kosabudaya.id

Tempat yang dipakai oleh balatentara Jamil inilah yang kemudian hari dikenal sebagai Desa Bangsal Aceh, karena Jamil memerintahkan untuk mendirikan bangsal-bangsal kayu di tempat tersebut.

Kembali pada Sayid Aziz Ibrahim yang dikejutkan oleh Jamil tersebut, maka kepada utusan yang datang Sayid Aziz Ibrahim menjelaskan agar Jamil jangan tergesa-gesa membuat keputusan perang. Sebab hal tersebut akan merugikan rakyat banyak dan diri mereka masing-masing. Jamil hendaklah menanti di tempat istirahatnya.

Bacaan Lainnya

Setelah kejadian itu Sayid Aziz pun kemudian berunding dan memutuskan untuk menemui Jamil. Sementara dia berangkat, dia menitahkan Sayidah Hasanah ditetapkan sebagai pemimpin istana Raja Pamalayu. Sedangkan Syarifah Ruqayah beserta ketujuh putrinya akan diungsikan ke lubang persembunyian bawah tanah di Tanjung Palas.  Apabila Syarifah Ruqayah dan semua putrinya sudah masuk lubang persembunyian, dititahkan oleh Sayid Aziz Ibrahim untuk menutupnya.

Sayid Aziz Ibrahim kemudian berpesan kepada Panglima Ibrahim, agar lubang tersebut jangan sekali-kali dibuka sebelum ada kabar pasti tentang dirinya yang berangkat ke tempat Jamil. Kalau dirinya selamat, maka dia sendirilah yang akan membukanya. Kalau tidak, Panglima Ibrahim berkewajiban menyelamatkan mereka yang disembunyikan itu untuk seterusnya dibawa ke Siak guna mendapat perlindungan. Pintu lubang hanya boleh dibuka sekali dalam sehari untuk memasukkan makanan pada waktu pagi. Itupun hanya untuk keperluan makan dan minum saja. Tak lebih dari itu.

Lalu akhirnya terjadilah pertempuran yang tidak bisa dihindarkan antar Sayid Aziz Ibrahim dengan Jamil. Perundingan yang mulanya berjalan lancar dalam suasana damai tiba-tiba berubah menjadi prinsip yang dipegangnya. Jamil Maureksa pun akhirnya tidak bisa mengendalikan emosi. Dengan siasat licik tersebut Jamil lalu menangkap paksa Sayid Aziz Ibrahim dan kemudian dibunuhnya. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Sayid aziz Ibrahim mengangkat sumpah dan bermohon kepada Allah, bahwa kiranya Jamil tak akan pernah dapat mempersunting Syarifah Junjungan, walaupun hanya sekerat dari badan putrinya tersebut. Dengan kehendak Allah yang dimohonkan bahwa Jamil tak akan berhasil menginjakkan kakinya di istana Raja Pamalayu.

Lalu akhirnya terjadilah pertempuran yang tidak bisa dihindarkan antar Sayid Aziz dengan Jamil. Perundingan yang mulanya berjalan lancar dalam suasana damai tiba-tiba berubah menjadi prinsip yang dipegangnya. Jamil Maureksa pun akhirnya tidak bisa mengendalikan emosi. Dengan siasat licik tersebut Jamil lalu menangkap paksa Sayid Aziz Ibrahim. Dan kemudian dibunuh. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Sayid aziz ibrahim mengangkat sumpah dan bermohon kepada Allah, bahwa kiranya Jamil tak akan pernah dapat mempersunting Syarifah Junjungan, walaupun hanya sekerat dari badan putrinya tersebut. Dan dengan kehendal Allah yang dimohonkan bahwa Jamil tak akan berhasil menginjakkan kakinya di istana Raja Pamalayu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *