“Kau tidak akan selamat dunia akhirat Umbut!” Timbal mak cik Umbut.
“Sebaiknya kami segera minta maaf, sebelum semuanya terlambat,” ujar pamannya lagi.
“Tak perlulah kalian menasehatiku, urus saja diri kalian masing-masing,” bentak Umbut Muda marah, sambil meninggalkan paman dan mak ciknya.
Tidak satu dua orang lagi yang menasihati Umbut Muda, namun pongahnya tidak juga berubah.
“Biarkan saja dia, mudah-mudahan jadi perawan tua!” Doa orang-orang kampung saat meraka membicarakan tentang tabiat Umbut Muda.
Emak Umbut Muda harus tunduk di bawah perintah anaknya yang sangat disayanginya itu. Dimanjakan sejak dari dalam buaian hingga gadis remaja, dan ketika telah besar berperangai seperti itu.
***
Pada suatu hari, menikahlah putri salah seorang bangsawan ternama Mempura. Undangannya terdiri dari orang-orang ter¬nama, jemputan terhormat termasuk si Umbut Muda. Pesta pernikahan digelar di seberang Sungai Jantan berhadapan kampung dengan tempat tinggal si Umbut Muda.
Umbut Muda bermaksud memenuhi undangan itu. Seperti hari-hati sebelumnya jika menghadiri jemputan, Umbut Muda akan memakain pakaian indah dan mahal, perhiasan yang bagus dan elok. Umbut Muda memamerkan kekayaanya.
Sedangkan Emaknya, hanya akan berpakaian biasa saja, tidak seperti anaknya yang sudah lupa langit dan tak ingat bumi.
“Mak, pakailah baju yang bagus, jangan membuat Umbut malu sama orang-orang, yang datang dalam perjamuan itu adalah pembesar-pembesar Mempura,” perintah Umbut kepada emaknya dengan jengkel.
“Kita tidak boleh sombong Umbut, bukankah pakaian hanya untuk menutupi aurat saja, untuk apa mesti mahal-mahal,” jawab emaknya menasehati.
“Emak mau tidak mengikuti kata-kata Umbut, ini untuk kebaikan Emak juga,” bentak Umbut dengan keras.





