“Iya.. ya… iyalah Umbut!” Sahut emaknya katakuatan.
Emak Umbutpun mengenakan pakaian yang mahal seperti kehendak Umbut. Sedangkan Umbut sendiri juga memakai pakaian indah terbuat dari sutra yang berasal dari negeri Tiongkok. Cincin dipasang sepuluh jari. Gelang lima serangkai sepanjang lengan. Dukuh terkalung di leher hingga ke paras dada, sepuluh rangkai, baju kurung berkancing permata berlian di batas leher, bergelang kaki emas giring-giring. Sedangkan dipinggang, terlilit emas bertampuk kulit ketam rinjung terbuat dari emas dua puluh empat karat.
Umbut Muda bergelang banyak memang sudah cukup termasyur. Sudah cukup terkenal di lingkungan Mempura, hingga ke hulu sungai desa Senapelan.
Cantiknya si Umbut Muda bertambah cantik, anggun berjalan. Ia berpayung biru muda, diberi berumbai-umbai manik kaca buatan negeri Tiongkok.
Lenggang-lenggok si Umbut Muda tampak sangat kentara, bila jembatan lintas sungai Jantan dititinya.
“Kriut …kriut…” tumit halusnya mulus berjinjit berderit-derit. Ibunya bertugas tukang payung, berjalan di sebelah kiri.
Entah apa asal-muasalnya, mungkin su¬dah kehendak Allah Swt. Tiba-tiba terlepaslah dua susunan gelang di tangan kanan si Umbut Muda. Gelang-gelang itu terpelanting, lalu jatuh ke dalam sungai.
“Mak…gelang Umbut jatuh dua dua buah,” kata si Umbut Muda terpekik. Ia menyuruh ibunya terjun ke dalam sungai.
“Mak, selami gelangku Mak…” katanya sambil menolak ibunya itu ke dalam sungai.
“Selam, Mak…selam!” Perintah Umbut Muda ketus.
“Arus sungai deras Nak… Mak tak sanggup menyelam.”
Si Umbut Muda begitu marah kepada ibunya itu. Ia pun mengambil sebatang kayu bercabang lalu ditekankan ke tengkuk ibunya.
“Selam gelangku… selam!” Teriaknya kuat-kuat.
“Burrr…,” gelembung-gelembung air berasal dari nafas ibunya keluar dari kedalaman air.
“Burrr…,” arus sungai pun menggelegak. Dan pada saat itu pula turun angin puting beliung memuntal-muntal, “Siuuung… siuang… siuuuuung”





