A. Makanan Harian
Makanan harian adalah makanan pokok yang disajikan setiap hari. Menu yang terkandung di dalam makanan harian terdiri atas nasi, lauk utama, lauk pendamping, sayur-mayur, dan sambal. Terkadang juga disertai ulam.
Secara tradisi, makanan harian dilakukan tiga kali dalam sehari yaitu pada pagi hari, siang hari, dan malam hari. Ketiga waktu tidak membedakan makanan yang dikonsumsi. Namun, ada juga makan pagi diganti dengan sarapan seperti lontong, nasi goreng, ataupun jenis makanan lainnya.
Sejak masa lalu, makanan harian masyarakat Melayu bersumber dari penyediaan secara mandiri. Makanan pokok yaitu nasi diolah dari beras, dan beras didapat dari berladang padi. Lauk utama dan lauk pendamping seperti ikan bisa dapat dari laut, danau, dan sungai. Daging atau ayam juga didapat dari beternak sendiri. Keperluan sayur, ulam, dan bumbu masak lainnya semisal kelapa, kunyit, serai, lengkuas tersedia di ladang ataupun kebun di sekitar rumah.
Secara tradisi, penyajian makanan harian dilakukan dengan menghidangkan makanan sehingga sering disebut makan berhidang. Tradisi ini dilaksanakan di ruang induk (ruang keluarga atau ruang utama) dengan duduk di lantai. Makanan dihidangkan kemudian angota keluarga duduk melingkari makanan dengan bersila dan perempuan dengan duduk bersimpuh.
B. Penyajian Makanan Harian
Penyajian makanan harian dilakukan dalam suatu tradisi yang disebut makan berhidang, yaitu makan bersama yang dilaksanakan dalam keluarga atau pada saat upacara adat. Makan berhidang telah menjadi tradisi yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Melayu Riau. Tradisi ini sudah dilakukan sejak masa lalu.
Pelaksanaan makan berhidang menguatkan hubungan kekerabatan dan menjalin silaturahmi yang erat antar anggota keluarga. Makan berhidang juga dimaksudkan sebagai bentuk kebersamaan seperti yang disebutkan dalam ungkapan makan sepinggang duduk setikar.
Dalam Tunjuk Ajar Melayu, filosofi makan berhidang dijelaskan sebagai berikut:
Seperiuk nasi jangan mencaci
Sepiring makan jangan menyeman
Sekelambu jangan cemburu
Setikar jangan mendakar
Selapik jangan mengusik
Sebaya jangan aniaya
Sepermainan jangan memakan
Seatap jangan menyelap
Sesampan jangan mengabaikan
Seperahu jangan memberi malu
Makan berhidang biasanya dilaksanakan di ruang induk (ruang keluarga atau ruang utama). Makanan dihidangkan kemudian anggota hidang duduk melingkari makanan dengan bersila dan perempuan dengan duduk bersimpuh di lantai.
Dilihat dari waktu pelaksanaan, makan berhidang dapat dibagi dalam dua bentuk yaitu makan berhidang harian dan makan berhidang pada upacara adat.





