Permainan Tradisional Melayu Riau

Permainan Legu. (Foto: guruku.kosabudaya.id)

Setelah anak yang tertangkap menentukan pilihan, maka ia berbaris di belakang salah seorang pintu gerbang yang dipilih. Setelah semua anak tertangkap, maka akan terbagi dalam dua kelompok. Permainan selanjutnya dilakukan adu kekuatan semacam tarik tambang (tidak menggunakan tali), tetapi menggunakan tangan antara ketua kelompok. Kelompok yang menang adalah kelompok yang dapat menarik kelompok lawannya melewati garis batas yang telah ditentukan

2. Benteng dan Ali Oma
Permainan benteng dilakukan dengan sembunyi dan cari. Salah seorang pemain yang kalah akan menjaga benteng, dan yang lain bersembunyi tidak jauh dari benteng.

Bacaan Lainnya

Permainan dimulai dengan suten untuk menentukan siapa jadi. Pemain yang jadi akan menghadap benteng sambil menutup mata, sedangkan yang lain bersembunyi. Dalam hitungan yang disepakati, anak yang jadi akan membuka mata dan mencari yang bersembunyi. Bila anak yang jadi mendapati pemain lain yang bersembunyi, ia harus menyebut namanya dan mengatakan, “jadi!”. Pemain yang bersembunyi dapat menghindari tangkapan yang jadi dengan menyerang benteng, yaitu dengan menepuk benteng tanpa sepengetahuan yang jadi atau sebelum namanya disebut. 

Permainan ali oma hampir sama dengan pemainan benten. Namun, ali oma menggunakan lagu yang dinyanyikan saat pemain penyuruk bersembunyi. Berikut lirik yang dinyanyikan dan saling jawab antara yang jadi (J) dengan penyuruk (P).

J : Ah Oma
P : Ambio
J : Kaki Pincang
P : Mata kero
J : Ro apa?
P : Rokan
J : Kan apa?
P : Kambing
J : Bing apa?
P : Bing kok
J : Kok apa?
P : Kodok
J : Dok apa?
P : Dolah
J : Lah apa?
P : Laci
J : Ci apa?
P : Cina
J : Na apa?
P : Nasi
J : Si apa?
P : Si ta
J : Ta apa?
P : Tali
J : Li apa?
P : Lipan
J : Pan apa?
P : Pandan
J : Dan apa?
P : Dandut, lico-lico…
Akhir lagu berarti yang ‘jadi’ sudah boleh mencari ‘penyuruk’.

3. Harimau dan Kancil 
Permainan harimau dan kancil memerankan tingkah laku harimau menangkap kancil. Permainan dilaksanakan berkelompok sekitar 10 hingga 14 orang. Pemain saling berpegang tangan dengan posisi melingkar, kemudian dipilih dua orang pemain untuk menjadi harimau dan kancil. Kancil berada di dalam lingkaran dan harimau di luar lingkaran. Harimau kemudian berusaha masuk ke dalam lingkaran untuk menangkap kancil tetapi selalu dihalangi oleh pemain yang melingkar. Kancil bersembunyi ketakutan sambil berlarian, sedangkan harimau yang garang kadang-kadang mengaum, melompat, dan berusaha menerobos lingkaran untuk menangkap kancil. Pemain dinyatakan kalah jika harimau dapat menangkap kancil baik di dalam maupun di luar lingkaran. Jika permainan dilanjutkan, dipilih kembali dua orang untuk menjadi kancil dan harimau.

4. Teka-teki
Teka-teki adalah permainan tebak-tebakan yang biasanya berbentuk pertanyaan atau pantun. Dalam sastra tradisional terbagi kepada dua bentuk utama yaitu prosa dan puisi. Teka-teki yang tergolong dalam bentuk puisi mungkin ditemui dalam bentuk syair dan pantun atau dalam ungkapan-ungkapan puitis yang lebih bebas seperti talibun, sesomba atau gurindam. 

Permainan teka-teki dipenuhi dengan kejenakaan, kecerdikan, ataupun ketajaman berpikir. Permainan ini juga dapat meningkatkan daya kreativitas para pemain. Pertanyaan-pertanyaan dalam teka-teki berkaitan dengan hal-hal sederhana yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh teka-teki:
Pertanyaan:
satu kuda sakti, ekornya dempak, giginya besi,
selilit akar mati, dililit kayu mati,
dicampakkan dia hidup, ditarik dia mati?

Jawaban:
Beliung

Pertanyaan:
berdengung bukannya kumbang,
mengaum bukannya harimau,
berbelalai bukannya gajah,
nakalnya lebih daripada ketiganya?

Jawaban:
Nyamuk

Rujukan:
Putra, Derichard H., dkk. 2024. Budaya Melayu Riau Kurikulum Merdeka untuk SMP/MTs Kelas VII. Pekanbaru: Penerbit Narawita

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar