“Datuk yang saya hormati,” kata Datuk Roger, “Saya dirundung malang. Kakak saya hilang entah ke mana. Entah ke mana pula rimbanya. Apakah datuk tahu tentang berita kakak saya?” tanya Datuk Roger.
“Maaf Datuk, saya tak tahu saudara perempuan mana datuk yang hilang itu,” tanya Datuk Motah kembali. Datuk Motah sebenarnya sudah tahu tentang keluarga Datuk Roger ini karena keluarga Datuk Roger ini terkenal di negeri itu.
“Kakak yang paling tua, Putri Pinang Masak namanya,” jelas Datuk Roger.
Datuk Motah pun terkejut. Sebab, seingatnya suatu ketika nama itu pernah didengarnya dilarikan ke Jambi oleh Dubalang Hitam dari kerajaan di sana dan diserahkan kepada Raja Telni Telanai raja yang berkuasa di wilayah Jambi.
“Kenapa Datuk? Datuk mendengar kabar tentang saudara saya itu?” desak Datuk Roger.
“I… i… iya, saya tahu, tetapi sepengetahuan saya, saudaramu itu dibawa lari dan dikawinkan dengan Raja Dewa Sikaraba Daik oleh paduka Raja Telni Telanai. Jika saudaramu tidak mau dia diancam akan dibunuh.”
Datuk Roger menarik nafas dalam-dalam. Ia setelah mengetahui peristiwa itu maka bertambah gundahlah hati dan pikirannya bercampur dengan kemasygulan. Ia pun permisi pulang untuk menemui abangnya Tunggak De Tonang dan saudara-saudaranya yang lain sebagai upaya membebaskan kakaknya.
Mereka pun pada suatu hari berjumpa dan bermusyawarah bagaimana siasat membebaskan saudara tua mereka itu dan siapa yang akan diutus.
Akhirnya disepakati dengan mengirimkan saudaranya Datuk Roger dengan menggunakan situasi yang ada dan jangan ada pertumpahan darah dengan saudara-saudaranya dari Jambi.
***
Datuk Roger pergi ke tempat di mana kakaknya permata mutiara negeri itu tinggal. Masuk kampung ke luar kampung, masuk hutan keluar hutan, naik bukit turun bukit. Akhirnya ia sampai di negeri Jambi. Ia melihat kerajaan itu dijaga ketat, di mana-mana ada penjagaan.
Datuk Roger sampai di sebuah kampung di pinggiran negeri Jambi, dan berjumpa dengan seorang penduduk di sana.
“Apa gerangan sehingga negeri ini dijaga begitu rupa, saudaraku?” tanya datuk Roger.
Sadar orang yang dihadapinya seorang yang sangat sopan dan baik hati, penduduk kampung itu tidak begitu curiga. “Kami masih bersiap siaga dengan Belanda, tuan.”
Kening Datuk Roger mengernyit, penuh tanda tanya.





