Cerita Rakyat Putri Pinang Masak

Putri Pinang Masak. (Ilustrasi: guruku.kosabudaya.id)

Belanda kemudian menyerang kerajaan itu. Banyak pasukan Raja Dewa Sikaraba gugur.

Ketika kerajaan benar-benar dalam situasi gawat, muncullah Datuk Roger, langsung menghadap raja Dewa Sikaraba. Raja Dewa Sikaraba terkejut melihat kedatangan Roger yang datang dengan tiba-tiba itu. Situasi yang tegang itu berangsur-angsur menjadi kendur Datuk Roger pun ditunjuk memimpin perang. Ia segera masuk dalam medan pertempuran menyerang kompeni Belanda. Selang beberapa lama maka medan peperangan pun dikuasi oleh Datuk Roger. Dan berangsur-angsur kompeni Belanda lari terbirit-birit meninggalkan kerajaan Raja Dewa Sikaraba. Ia menangkap semua penghianat yang ada di istana. Tanpa diteliti, para penghianat itu langsung dikirim ke tiang gantungan. Setelah para penghianat ditangkap dan digantung, Raja Dewa Sikaraba mengadakan pembersihan dalam prajurit pengawal istana. Akhirnya amanlah kerajaan itu.

Bacaan Lainnya

***

Pada suatu pagi Datuk Roger pergi menghadap Raja Dewa Sikaraba, ia berkata, ia mohon diri untuk pulang ke Indragiri.

“Jika suatu masa nanti tuanku memerlukan hamba, panggillah duli ke kampung Siambul, di hulu Batang Gangsal Siberida Indragiri.”

Permintaan Datuk Roger pun dikabulkan dan mengizinkan Datuk Roger pulang besok harinya.

Sementara itu, pada malam harinya di kamar Putri Minang Masak bersimpuh di depan Raja Dewa Sikaraba dan memohon.

“Tuanku Paduka yang Mulia, diawal hamba datang ke negeri ini, dibawa oleh dubalang ke istana ini dan dijadikan selir oleh yang mulia. Meskipun begitu hamba telah tuanku perlakukan melebihi permaisuri tuanku. Sekarang hamba terus terang, bahwa Datuk Roger itu adalah adik kandung hamba. Sekarang hamba mohon izin pulang bersamanya ke Siambul di Indragiri. Hamba sekarang sangat rindu kepada adik-adik hamba yang tak dapat hamba lupakan dalam pandangan dan ingatan hamba.”

Raja Dewa Sikaraba menjawab, “aku yakin Datuk Roger itu adalah adik kandungmu. Dia telah berjasa banyak terhadap negeri ini. Dan, sekarang meskipun berat hati tapi sesuai dengan permintaanmu, aku izinkan dan diharap segera kembali ke istana ini.”

“Perlu paduka ketahui, bahwa sekarang ini saya sedang berbadan dua selama tiga bulan. Niat saya ingin ia lahir di istana ini, suatu bukti bahwa ia adalah anak dari Paduka. Sekarang izinkanlah hamba berangkat dengan keikhlasan hati. Ingat dengan anak yang saya kandung ini,” kata Putri Pinang Masak dengan mata berkaca-kaca. Putri cantik ini pun diizinkan.

Ketika pagi sekali dua beradik itu akan berangkat Raja Dewa Sikaraba menyerahkan plakat kerajaan yang berisikan, hutan didaerah Jambi ini diserahkan kepada anak cucunya dari Putri Pinang Masak sebagai warisan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *