Kelak, anak cucu keturunan dari Putri Pinang Masak dan Raja Dewa Sikaraba inilah kemudian mendiami dan kemudian pula menjadi suku kubu yang menguasai hutan Jambi.
***
Dari awalnya saudara-saudara Putri Pinang Masak sudah mengetahui kakak sulungnya akan tiba. Mereka sibuk menyiapkan acara “bergawai”3.
Dilihat dari kejauhan Putri Pinang Masak berjalan begitu anggun. Putri Pandan Bajelo terutama tak sabar lagi menunggu kedatangan kakaknya. Dia berlari mengejar. Dari jauh ia telah menangis bersedu-sedu sambil mengacungkan tangannya untuk memeluk kakaknya.
Putri Pinang Masak berkata, “Adikku, jangan menangis, tertawalah karena kakak telah kembali, kita akan berkumpul bersama lagi seperti biasa.”
Putri Pandan Bajelo menangis bahagia, suka-cita karena melihat kakaknya pulang dalam keadaan sehat tanpa kekurangan sesuatu pun.Adik-adiknya yang perempuan menangis terharu.
Di kampung Siambul penyambutannya telah diatur dengan acara gawai. Masyarakat kampung Siambul mengadakan gawai yang diisi kegiatan kesenian, judi adat, sabung ayam. Kesenian gambus mulai bergema, suara vokal nandong mengalun lembut membuat di negeri Siambul menjadi semarak dan gembira kembali. Setelah bertahun-tahun negeri ini temaram dan kusam. Genggong dan gambus berbunyi riuh-rendah, Putri Pinang Masak disambut dengan beras kuning dan siraman air bunga mawar, bajunya basah kuyup, rambutnya ditaburi dengan kelopak bunga yang harum semerbak.
Acara gawai berlangsung hingga larut malam. Judi, kesenian gambus, genggong, nandong berlangsung hingga ayam berkokok. Pada kesempatan yang gembira dan meriah itulah Datuk Marudum Sakti mengucapkan terima kasih kepada hadirin, menyampaikan rasa gembiranya.
Datuk Marudum Sakti berkata, “lihatlah kepada kami, keluarga kami sudah utuh kembali, dan peristiwa ini kita jadikan sebagai pelajaran berharga untuk anak cucu kita kelak agar jangan menyia-nyiakan saudara-saudaranya”.
Sebelum bubar seluruh negeri itu menyalami Puteri Pinang Masak dan keluarganya. Selesai bersalam-salaman, fajar pun datang menjelang. Orang-orang mulai bubar dan bertebaran pulang ke rumah masing-masing.***
1 Cerita ini disadur dari cerita rakyat Indragiri Hulu berjudul Puteri Pinang Masak (1996). Ditulis oleh Drs. Bustami M. Lipsi.
2 Siambul dalam catatan administrasi politik Kabupaten Indragiri Hulu merupakan sebuah kampung, terletak di Kecamatan Siberida lebih kurang 85 km arah Timur kota Rengat, ibukota Indragiri Hulu. Penduduknya pada tahun 1995 berkisar 136 kepala keluarga atau 782 jiwa. Daerah ini merupakan penghuni suku Talang Mamak terbesar di Indragiri Hulu setelah Talang Mamak di Kecamatan Pasir Penyu. Penghidupan mereka bersumber dari berkebun karet, ladang berpindah, berburu binatang, menangkap ikan dan mencari rotan.





