“Pertentangan antara raja kami Raja Telni Telanai dengan Belanda mulai mengkhawatirkan, tuan,” jelas penjaga itu. Salah seorang penjaga lainnya datang mendekat dan bertanya, ”Hai orang muda dari mana engkau hingga sampai ke negeri ini?”
Datuk Roger diam sesaat. Setelah penjaga itu memperhatikan wajah yang dihadapi itu dengan penuh siasat dan menilai tidak membahayakan, maka ia pun berkata:
“Karena daerah ini dalam keadaan kurang aman, lebih baik tuan pergi ke istana,” sarana salah seorang penjaga itu.
Roger pun dibawa oleh salah seorang pengawal masuk ke istana. Tanpa disangkanya Datuk Roger dihadapkan kepada sang raja. Setelah sampai di hadapan Raja Telni Telanai, raja pun berkata, “Dari mana sehingga kamu berani masuk ke negeri ini?”
Setelah mengucapkan sembah ia berkata, ”Saya berasal dari kerajaan Indragiri, saya datang ke daerah ini untuk mengembara. Siap membantu apapun yang paduka butuhkan.” Roger sengaja menyembunyikan tentang dirinya dan maksud serta keperluannya ke negeri Jambi itu. Dan, sejak saat itu resmilah Datuk Roger menghuni istana itu.
Beberapa kali Roger diutus membasmi perompakan di perairan Jambi. Dan, selalu saja berhasil. Karena sudah dianggap berjasa maka Raja Telni Telanai pun mengangkat Roger sebagai dubalang negeri di kerajaan itu.
Pada suatu kesempatan, Roger menawarkan dirinya untuk menumpas kompeni Belanda.
“Paduka raja, kali ini saya ingin berangkat menumpas kompeni Belanda, karena saya ingin janganlah rakyat kita yang menjadi korban,” demikian permohonan Datuk Dubalang Roger.
Raja Telni Telanai pun tak mempunyai pilihan lain melihat keinginan dan kesungguhan dubalangnya yang satu ini. Karena dubalang-dubalang yang lain tidak berani, pun tidak ada yang menawarkan diri untuk bertempur melawan musuh.
Roger kemudian menjelaskan, ”paduka raja, saya berangkat tidak membawa senjata. Saya berangkat hanya minta doa restu dari yang mulia agar saya berjaga di medan perang.”
”Hai Dubalang Roger, engkau gagah berani, seluruh negeri dan rakyat Jambi berharap agar engkau berjaya di medan tempur. Engkau berjuang mempertahankan marwah negeri ini hingga tetes darah terakhir. Aku dan seluruh rakyat di kerajaanku mengantarkan dubalang dengan doa restu, semoga kamu pulang dengan kemenangan dan keadaan yang selamat,” sabda Raja Telni Telanai.
Malam pun turun. Sebelum keberangkatan sekelebat bayangan wanita datang ke bilik Roger dan menyerahkan sehelai selendang cindai. Dan kelebat itu pun beranjak dari kamar itu. Tak seorangpun yang mengetahui pertemuan mereka yang tidak lain wanita itu adalah saudara tua Dubalang Roger, Putri Pinang Masak.
Keesokan harinya dengan langkah mantap dengan mengenakan selendang milik kakaknya, Roger berangkat ke daerah yang telah dikuasai oleh kompeni Belanda.





